Berawal dari gosip bakal padamnya listrik di Jatinangor selama tiga hari di akhir pekan lalu akibat terbakarnya salah satu gardu, yang ternyata tak terbukti. Saya hijrah ke kota sebelah untuk sekedar recharge baterai telefon genggam, laptop, dan alat-alat elektronik lainnya. Bermalam di rumah seorang teman dan disuguhi keramahan luar biasa dari anggota keluarganya, dendeng sapi, bakpia, dan sarapan telor ceploknya.
Setelah puas bermalas-malasan di saung yang luar biasa nyamannya itu, kami melakukan kegiatan yang saya suka, berkendara tanpa tujuan. Walau tak sepenuhnya tanpa tujuan. Lebih seperti tahu hendak kemana tapi buta rute menuju sana. Keisengan yang pertama menuju gunung yang digosipkan staf kepresiden terdapat piramida di bawahnya. Oke, dilihat dari bentuknya, memang mendukung asumsi kelompok bentukan Andi Arief itu.
Tak banyak tujuan yang hendak disambangi. Dari Desa Sadagurip motor melaju menuju Kawah Papandayan, yang lokasinya, saya juga belum tahu. Hanya berbekal ancer-ancer orang rumah. Memang cara bepergian seperti ini tak dianjurkan bagi mereka yang tak memiliki waktu panjang. Setelah melalui jalanan berliku di kaki Gunung Papandayan, kawah itu berada hanya kurang dari delapan kilometer di depan. Sayang, kondisi jalan menuju sana tak mungkin dilalui sepeda motor bebek yang sudah tergolong tua. Terlebih hari semakin menggelap, mungkin lain waktu.



