Review Spider-Man Far from Home

Spider-Man: Far from Home, Pesan Moralnya

Akhir pekan ini saya maraton dua film sekaligus di bioskop, salah satunya Spider-Man: Far from Home. Secara keseluruhan film Marvel terbaru ini memang bukan yang terbaik, namun pesan moralnya cukup menarik. Malah menurut saya relevan banget sama situasi yang dihadapi anak muda.

Oiya, ketika saya bicara “anak muda” bukan berarti saya paham betul psikologi berdasarkan referensi ilmiah atau semacamnya. Sebaliknya, saya hanya berkaca pada kondisi diri sendiri sekitar lima atau sepuluh tahun silam, saat saya masih bisa dibilang muda.

Dalam film Spider-Man: Far from Home ada twist besar yang benar-benar mengubah jalan cerita. Plot twist tersebut tak lepas dari mental Peter Parker yang masih… Apa ya namanya? Ragu sama diri sendiri. Menganggap perannya di dunia superhero sebatas “melayani” lingkungannya.

Namun, film ini ingin menyampaikan semestinya ia bisa dan harus terlibat pada tanggung jawab sebenarnya, melindungi dunia. Itu artinya ia harus mengorbankan banyak hal, termasuk berada di samping MJ (Mary Jane). Tekanan itu semakin besar karena Spider-Man diceritakan seolah-olah mendapat “tongkat” kepercayaan dari Tony Stark untuk melanjutkan perjuangan Avangers.

Konflik film ini benar-benar dimulai ketika Peter memutuskan pergi dari tanggung jawab tersebut. Memilih jalan yang dirasanya lebih nyaman untuk lalui. Tuh kan, tipikal saya anak muda banget. Selanjutnya bisa ditebak, semua runtuh sehingga mengharuskan Spider-Man memperbaikinya.

Mungkin inilah yang masih membuat saya bertahan ngikutin film-film Marvel, kedekatan ceritanya sama kehidupan nyata. Keraguan-keraguan kayak gitu persis seperti yang saya alami lima hingga sepuluh tahun ke belakang.

“Gue sebenarnya mampu gak sih ngerjain ini? Kalau udah nikah nanti, gue mampu gak ya nafkahin anak istri? Gue bisa gak ya bikin bahagia ortu? Bodo amat ah, mendingan gue nongkrong aja, main, touring, beli motor.”

No. no. no. Bukannya saya sok menggurui. Tapi kalau Anda cowok dan sedang dalam kondisi mental seperti itu, jangan pernah pergi dari masalah. Sesama cowok, saya pengin ngasih tahu aja karena akhirnya situ bakal benar-benar kehilangan. Kepercayaan, orang yang disayang, atau peluang-peluang. Sampai sekarang aja saya masih berusaha mengumpulkannya lagi.

Pesan lain yang coba disampaikan film ini ialah betapa bahayanya seseorang yang manipulatif, tukang tipu. Ini tergambar dari sosok Mysterio/Quentin Beck yang dimainkan Jake Gyllenhaal. Di film ini Mysterio melakukannya dengan memanfaatkan teknologi. Tapi di dunia nyata untuk nipu orang biasanya cukup dengan omongan. Iya gak?

Leave a Reply