Bikin Iklan

Bikin Iklan (yang Bagus) Itu Sulit, Kawan

Kalau ditanya pekerjaan apa yang paling sulit buat Anda? Maka saya bakal jawab sambil teriak, “bikin iklan!!!!” Utamanya sih headline iklan atau copy iklan karena pekerjaan saya memang tukang bikin tulisan.

Idealnya, bikin headline iklan memang jadi tugas seorang copywriter. Bukan spesialisasinya content writer atau content editor seperti saya. Tapi saya bisa ngerti sih… Kerja di sebuah perusahaan rintisan memang harus terbuka untuk mencicipi pengalaman-pengalaman baru (baca: ngerjain macem-macem).

Bikin headline iklan yang cuma satu kalimat atau bahkan cuma beberapa kata itu sulitnya minta ampun buat saya. Beda halnya dengan bikin artikel. Saya bisa buka laptop dengan kepala kosong, lima belas menit kemudian udah ada artikel yang siap tayang.

Mungkin kalau cuma bikin copy iklan seadanya sih bisa-bisa aja. Tapi masa iya kerja minimalis banget? Ada kalanya pengen juga bikin copy yang nendang. Di sinilah tantangan mulai muncul. Kesulitan yang saya hadapi kadang bukan cuma masalah teknis (pemilihan kata atau semacamnya), tapi pikiran akan “kompetisi” iklan yang sangat ketat.

Begini maksud saya. Di luar sana ada banyak banget iklan yang beredar. Semuanya tampil berebut perhatian audiens. Bukan cuma iklan yang tampil di luar ruang atau bahasa kerennya OOH (out-of-home), tapi juga iklan-iklan yang muncul di berbagai platform digital. Semuanya berebut perhatian Anda, saya, dan semua orang yang sekiranya potensial konsumennya.

Terus saya harus nulis headline sekeren apa biar iklan ini bisa menang atau seenggaknya bersaing dengan iklan-iklan yang lain? Ini yang kadang bikin saya butuh waktu berjam-jam untuk nge-deliver copy iklan ke pak bos.

Jalan keluar yang paling sering saya ambil adalah cari referensi sebanyak-banyaknya. Itu juga kalau waktunya nggak mepet sih. Liat-liat materi promosi dari produk satu kategori terus dimodif sesuai kebutuhan.

Kalau ngomongin trennya. Sekarang lagi banyak banget headline yang menggunakan teknik rima atau persamaan bunyi. Emang asyik sih buat dibaca.

Terlepas dari itu, saya kadang suka mikir. Jangan-jangan saya merasa sulit karena nggak tahu apa yang sebenarnya mau saya buat. Apa yang saya cari. Jawabannya mau nggak mau emang harus belajar lagi. Daripada bingung ngarang-ngarang sendiri.

Leave a Reply