Resign itu menular

Resign Itu Menular, Bener Gak Sih?

Seorang teman kerja mengundurkan diri. Gak lama kemudian teman kerja yang lain kasih kabar Februari ini adalah bulan terakhirnya. Mundur sedikit, dalam sebulan terakhir juga udah ada dua orang yang memutuskan pamit. Padahal salah satunya baru kerja seminggu. Melihat itu semua saya jadi berpikir bahwa resign itu menular.

Memang sih, saya yakin mereka punya alasan masing-masing untuk memutuskan resign. Bisa jadi penyebab satu dengan yang lainnya sama sekali gak berhubungan langsung. Tapi satu hal yang bikin saya penasaran, kenapa semua itu terjadi di waktu yang cenderung berdekatan?

“Biasanya kalau satu orang resign, yang lain juga bakal resign,” ucap seorang senior saya di kantor. Iya, tapi kenapa?

Ada yang bilang bahwa awal tahun memang masa-masanya orang cari kerjaan baru. Selain tentunya setelah Lebaran. Model yang kayak gini biasanya ngarep THR cair dulu sebelum pamit. Hehehe… Tapi itu semua belum menjawab rasa penasaran saya.

Setelah ngelamun di motor selama perjalanan pulang, akhirnya saya mendarat pada sebuah kesimpulan. Bisa jadi itu semua justru ada hubungannya, meski sifatnya gak langsung.

Saya percaya sebuah keputusan yang diambil seseorang dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Karena hal inilah yang juga saya rasakan ketika memutuskan sesuatu.

Biasanya itu semua dimulai dari niat yang muncul di dalam diri sendiri. Kemudian didorong dengan situasi lingkungan. Sampai akhirnya referensi terhadap pengalaman membantu memutuskannya.

Izinkan saya mencontohkannya ya…

Terlepas dari penyebabnya, bisa jadi seorang pegawai sudah memiliki niat untuk resign di dalam dirinya dalam waktu beberapa lama. Namun niat itu masih mentah. Pada tahap ini resign hanya sebatas pikiran yang datang dan pergi.

Namun suatu hari ia melihat koleganya resign. Jeng jeng… Niat tersebut kembali muncul di pikirannya. Bahkan lebih sering dari biasanya. Faktor lingkungan mulai memoles niat tersebut semakin terbentuk.

Menurut saya faktor lingkungan bukan hanya itu. Bisa juga adanya tawaran lebih menjanjikan dari perusahaan lain. Atau kondisi pekerjaan sekarang yang memang buruk. Atau muncul peluang menjalani bisnis yang sudah lama ia idam-idamkan. Pokoknya apapun itu yang datangnya dari dunia di sekelilingnya.

Di tahap ini niat resign mulai kuat. Atau bahkan menjadi bulat.

Hingga akhirnya ia tiba pada pemikiran bahwa keluar dari kantor sekarang bukan masalah besar. No big deal lah pokoknya. Resign ya resign aja. Toh dulu pas resign dari kantor sebelumnya bisa dapat kerjaan lagi, bisa jalanin bisnis, bisa minta duit ke ortu, atau bisa tetap dapat duit walau nganggur (gak tau juga sih gimana caranya).

Tahap inilah yang saya maksud referensi terhadap pengalaman.

Jadi mungkin wajar aja kalau ada seorang pegawai yang resign akhirnya “menginspirasi” pegawai lain untuk melakukannya juga. Resign itu menular.

Sebagai teman, tentu saya gak punya porsi untuk melarangnya. Cuma bisa kasih doa semoga makin sukses di tempat barunya.

Photo by Jake Oates on Unsplash

Leave a Reply